Cari Blog Ini

Selasa, 12 Januari 2010

Hukum Dasar Berkeluarga



• Kalau seseorang sudah menikah, apalagi sudah punya anak, maka proses sukses tidaknya karir dan kehidupannya dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Bila dinamikanya bagus, maka karir dan kehidupannya di luar rumah pasti juga ikut bagus. Setidaknya hal itu meratakan jalan baginya untuk mencapai sukses baik dalam karir, maupun kehidupannya secara luas.
• Banyak orang mencurahkan perhatian pada peningkatan mutu individu dengan meninggalkan pandangan bahwa dinamika seseorang itu tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang berlangsung di dalam keluarganya. Mereka menciptakan berbagai pelatihan berdasarkan individu yang terpisah dari situasi keluarga. Menurut saya, pelatihan semacam itu tidak akan sempurna, bahkan hanya membawa kegagalan baru bagi individu tersebut. Tidakkah kita ketahui, semangat dan kejernihan pikiran yang menjadi pra kondisi kesuksesan seseorang, seringkali dipengaruhi oleh situasi yang terjadi di dalam keluarganya.
• Setelah seseorang menikah, hendaknya ia mengubah caranya bekerja dan mengambil keputusan: dari otokratik menjadi kolaboratif plus musyawarah. Apabila hal ini diabaikan, hanya akan membuat dirinya susah di kemudian hari. Satu saja, seorang yang otokratik, tanpa melibatkan istri dalam pengambilan keputusan, selain membuat istri semakin tergantung padanya, juga bagaimana jadinya masa depan keluarga apabila dia mati. Apakah istri semacam itu tidak kalangkabut. Lalu bagaimana dengan konsep suami adalah pemimpin keluarga? Tidak ada masalah yang ditekankan adalah proses dalam pengambil keputusan. Jadi, para suami tidak perlu hawatir soal posisi mereka sebagai pemimpin. Dan bagaimana dengan konsep divisi (pembagian tugas)? Itu pun tidak masalah. Pembagian tugas tidaklah harus diterapkan secara kaku: sehingga suami tidak mau ke “dapur”. Itu tidak benar.

Minggu, 10 Januari 2010

Bangkit tidaknya Indonesia, tergantung orang Jawa!


Pertama-tama saya tidak sedang bermaksud menyulut kebencian pada suku bangsa tertentu. Karena masalah ini, tidak hanya diidap oleh orang Jawa. Toh beberapa orang Jawa dapat mencerminkan sebaliknya, seperti Soekarno. Tapi kalau ditinjau secara umum, maka sifat khas itu terlihat menonjol pada orang Jawa. Apalagi selama 32 tahun Orde Soeharto, maka semakin bersemilah sifat tersebut: tidak Logis, tidak Lugas, tidak Tegas. Sekarang di era SBY, kok hal itu dikembangkan lagi.

Okelah. Sebagaimana kita tahu, dalam era demokrasi-pasar dewasa ini, karena orang Jawa yang paling banyak jumlahnya, jelas merekalah penentu bangsa ini. Sudah pasti pemimpin-pemimpin penting bangsa ini terdiri atas orang-orang jawa.

Sialnya budaya orang Jawa ini, lebih kental "main hati"nya ketimbang main logikanya. Akibatnya, susah untuk berkata: 1+1=2. Padahal, bila Indonesia ingin maju, menurutku dia harus berbudaya LOGIS, LUGAS dan TEGAS. Logis berpikirnya, lugas berkomunikasinya, dan tegas pendirian, sikap dan tindakannya.

Nah untuk urusan semacam ini, bagi Non-Jawa itu masalah sepele. Yang berat itu, bagi orang Jawa.

Karena ini menyangkut syarat untuk bangkit dan maju, maka beresin dulu budaya Logis, Lugas, dan Tegas ini, terkhusus untuk orang Jawa. Jika orang Jawa beres dalam urusan ini, yang Non Jawa akan lancar. Sehingga seluruh Indonesia dapat serentak maju.

Rabu, 06 Januari 2010

Azimat Pemikiran


Pikiran-pikiran yang tersimpan di dalam sebuah buku, tidak saja sebagai anak ruhani, tapi juga azimat pemikiran. Banyak pembaca buku mendapat ilham dari buku. Dan inilah beberapa koleksi buku yang punya pengaruh penting dalam pembentukan pemikiranku. Yang di tengah berwarna biru adalah karyaku sendiri.

Bagi siapa saja yang menginginkan buku-buku itu, dapat menghubungi saya di syahrul.ed@gmail.com atau 021-
23652083.

Selasa, 05 Januari 2010

Bodoh Itu Relatif!


Banyak orang tua yang kebingungan dengan anaknya. Anak telah ambil les ini, les itu, bimbel (bimbingan belajar) ini, bimbel itu, tapi mengapa nilai ujian anak tetap saja buruk. Beberapa orang tua dengan gampang menyalahkan anaknya. “Dasar kamu anak bodoh!” bentak seorang Ibu saat kecewa melihat nilai ujian anaknya.

Apakah orang tua tidak berpikir, bahwa hardikan yang menjatuhkan semacam itu, tidak saja merosotkan mental sang anak, tapi juga menambah alasan bagi anak untuk semakin malas belajar. Kalau pun anak tetap rajin belajar, tetap saja hardikan itu membuat mereka tertekan.

Padahal sebetulnya setiap anak yang lahir dalam keadaan normal, merupakan anak yang cerdas. Selama tidak ada ciri-ciri idiot, otak anak akan mampu menampung segala pengetahuan dan informasi—saya lebih suka memakai istilah ini dari pada pelajaran, karena istilah pelajaran memberikan kesan kewajiban yang rada memaksa, dan setiap yang memaksa, tidak menyenangkan anak—yang dituangkan kepadanya.

Yang menjadi persoalan bukanlah soal kapasitas otak sang anak atau kegeniusan sang anak. Tapi lebih pada apakah sang anak tertarik dengan pengetahuan dan informasi yang kita tuangkan kepadanya.

Nah, terkait dengan soal daya tarik ini, kita harus jeli meneliti mengapa sang anak tidak tertarik pada hal-hal tertentu, tetapi pada saat yang sama tertarik pada hal-hal tertentu lainnya. Di sini terdapat dua faktor yang menyebabkannya.

Pertama, cara kita atau kemasan kita mengenai pengetahuan dan informasi yang kita tuangkan kepadanya. Bisa saja cara dan kemasan hidangan pengetahuan dan informasi yang kita suguhkan tidak menarik selera belajarnya.

Kedua, terkait materi pengetahuan dan informasi itu sendiri yang tidak menarik perhatiannya. Hal ini bisa saja terjadi karena tidak adanya mata rantai dengan simpanan (memori) pengetahuan dan informasi yang telah ia miliki sebelumnya. Kita tahu, otak sang anak terisi dengan pengetahuan dan informasi secara berangsur-angsung.

Selain itu, bisa saja materi pengetahuan dan informasi yang dituangkan kepadanya tidak memiliki asosiasi, bandingan, relasi, dan analogi dengan simpanan (memori) pengetahuan dan informasi yang sudah ia dapatkan sebelumnya. Atau bisa juga menurutnya, pengetahuan dan informasi itu tidak ada kegunaan (utilitas) bagi kehidupan dirinya. Untuk hal ini, seorang guru atau penyaji pengetahuan dan informasi perlu menjelaskan dan memahamkan sang anak bahwa pengetahuan dan informasi tersebut terkait erat dengan kebutuhan hidupnya.

Apabila kedua faktor tersebut ada pada pengetahuan dan informasi yang sedang kita suguhkan, otak si anak akan lekas bekerja untuk menguasainya. Sejauh mana ia berhasil menguasainya, tergantung sejauh mana kemasan hidangan dan meteri pengetahuan dan informasi tersebut menarik minatnya. Begitu pengetahuan dan informasi itu sangat menarik baginya, cepat atau lambat ia akan menguasainya.

Nah, di sinilah baru kita bicara bodoh atau pintar, genius atau tidaknya seorang anak. Tentu yang genius akan lebih cepat menguasai pelajarannya. Tapi itu tidak terlalu masalah. Kadang-kadang apabila minat sang anak telah “menyala” pada suatu materi pengetahuan, maka akan timbul ketekunan dan kegigihan sang anak. Dan itu tinggal menunggu waktu saja bahwa ia akan segera menguasai pelajarannya. Hanya tantangannya adalah kemungkinan munculnya rasa bosan sang anak sebelum ia tuntas menguasai pengetahuan dan informasi yang disuguhkan kepadanya. Untuk mengatasi kemungkinan munculnya kebosanan sang anak, maka ia perlu didampingi, disupport dan diarahkan.

Masih ingatkah Anda kisah Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu listrik. Pada mulanya ia disangka sebagai anak yang bodoh karena rendahnya minat belajarnya. Tapi di kemudian hari ia malah dikenal sebagai manusia yang genius disebabkan banyaknya temuan-temuan ilmiahnya.

Satu hal yang bisa disimpulkan bahwa ketika ia disangka sebagia anak yang bodoh, ia belum menemukan objek ketertarikannya pada pelajaran di sekolahnya itu. Begitu ia menemukan objek ketertarikannya, ia pun seolah melompat menjadi anak yang genius.

Jadi, soal menarik atau tidaknya sebuah materi pengatahuan beserta kemasan penyajiannya, penting menjadi catatan bagi penyelenggara pendidikan. Hendaknya dapat menyajikan pelajaran, baik materinya maupun kemasannya agar menarik minat para siswa, di samping menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Dewasa ini, orang hanya terfokus untuk menciptakan suasana belajar yang menggembirakan dan menyenangkan, tapi lupa menyajikan materi pelajaran dan kemasan pelajaran yang merangsang minat belajar para siswa.

Untuk menyajikan materi dan kemasan pelajaran yang menarik minat siswa, dapatlah sajian pelajaran itu diracik dengan unsur-unsur berikut:

1.Kontekstual dan aktual
2.Mengandung unsur human interest
3.Mempunyai daya guna dan tepat guna
4.Mempunyai relasi dan mata rantai dengan simpanan (memori) pengetahuan si anak. (Jangan jadikan pelajaran untuk S3 disajikan kepada anak SD)

Jika tips tersebut dapat dilakukan, para orang tua akan bersuka ria dikarenakan melihat anaknya yang gemar dan tekun mempelajari suatu materi pengetahuan. Anak pun akan segera terbebas dari mental bahwa sekolah adalah penjara atau paksaan yang tidak bisa dielakkan demi masa depan mereka yang lebih baik. Sebab fungsi sekolah telah banyak tereduksi dalam persepsi aktual sang anak. Yang masih tersisa, sekolah masih berfungsi menjadi tangga bagi setiap siswa untuk menjalani mobilitas vertikalnya di kemudian hari.

Rabu, 30 Desember 2009

Gusdur Meninggal, Ma!


Saya baru tiba di rumah pukul 23.00 WIB. Sementara anak dan isteri saya sudah semuanya tidur. Jadi, belum sempat tegur sapa, saya pun langsung tidur. Subuh, saya terbangun. Kemudian mandi dan shalat. Setelah mandi, kembali ke kamar tidur. Terlihat isteri saya masih belum juga bangun.

“Ma, bangunlah!” Kalimat itu belum mampu membangunkannya.
Kemudian saya katakan dengan lembut, “Gusdur meninggal, Ma.”
Dia langsung jawab dengan terkejut, “Ha!!!” Nah, berarti dia sudah bangun. Tujuanku tercapai: membangunkannya supaya lekas shalat.

Hikmah yang masih bisa dipetik dari kematian seseorang adalah banyak-banyak memperbaiki diri. Terutama soal hubungan baik dengan Yang Punya Nyawa. Di antara caranya, lekas-lekas shalat subuh agar tidak bangun kesiangan.

Kembali ke Ha!!!-nya isteri saya. Itu menandakan betapa dekatnya Gusdur kepada rakyat biasa. Tatkala ia “pergi”, semua merasa kehilangan. Serasa tidak percaya, seperti Ha!!!-nya isteri saya itu.

Istri saya merupakan profil rakyat biasa. Bukan NU, apalagi pembaca politik kebudayaan Indonesia kontemporer. Saya pastikan, dia mengenal Gusdur dari televisi, radio, dan gosip-gosip. Jadi, Gusdur dia kenal sebagai pribadi yang popular. Selain tentunya, sebagai mantan Presiden.

Bagi orang seperti isteri saya, Gusdur adalah pribadi yang kocak, tapi banyak hal yang bisa dipetik dari kekocakannya. Termasuk ledekan-ledekannya. Di antara yang terkenal bagi isteri saya, misalnya: “Gitu aja kok repot”, “dasar anak TK”, semprotan Gusdur buat DPR kala dia menjabat sebagai Presiden.

Semua itu terngiang-ngiang di telinga rakyat. Kagum sekaligus kocak, tapi benar. Maka tatkala ia “pergi”, rakyat nelangsa, siapa lagi pemimpin yang kocak seperti dia. Siapa lagi yang berbicara seperti bicaranya rakyat yang spontan, pedas, dan lucu itu. Siapa lagi tokoh tingkat tinggi yang bersifat tidak formal, tidak gila hormat (gilhor) seperti yang diinginkan rakyat terhadap pemimpinnya.

Jadi, rakyat kehilangan salah satu bagian dari hidupnya. Rupa-rupanya Gusdur telah menjelma menjadi bagian dari hidup rakyat.

Hick…hick…hick…rakyat menangis dengan kepergianmu, Gus. Weleh…ternyata termasuk saya. Buktinya butiran air membasahi kertas yang sedang saya tuliskan ini: tentang kepergianmu, Gus. Ya Allah, terimalah Gusdur di sisimu, ya. Saya cinta dia. Termasuk anak istriku, juga suka padanya. Nanti kepada anakku yang masih kecil (1,4 tahun) yang masih bicaranya baru bisa Ayah, Bunda, akan kuceritakan tentang seorang di antara manusia Indonesia terhebat: Gusdur si pemberani. Gusdur si tokoh merdeka. Biar si kecil dapat meneladaninya kelak.

Gusdur memang hebat. Gusdur telah memberi dampak pada kehidupan orang-orang di tanah air. Dia wacana rakyat hingga ajal menjemputnya. Pantaslah ia akan dikenang lama oleh rakyat dari berbagai golongan. Termasuk Cina-cina. Dia telah memberi mereka hadiah terindah sebagai warga yang sama-sama terhormat di negeri ini. Kini Imlek dapat rame-rame di mana pun. Tidak hanya di Glodok.

Kala yang ditinggalkan berlomba memberi penghormatan terakhir, saya yakin, itu tidak lagi diperlukannya. Itu tidak berguna bagi Gusdur. Yang masih hidup saja merasa tidak enakan sama dia yang sudah wafat.

Biarpun semua yang masih di dunia melimpahinya mobil mercy, kalung berlian, wangi-wangian, dan tempat terhormat di Taman Makam Pahlawan, semua itu tidak ada artinya lagi bagi dia. Untunglah Gusdur dimakamkan di Jombang, bersampingan dengan kuburan kakeknya, KH. Hasyim Asyari.

Kini dia telah kembali kepada Penciptanya. Hanya amal baik selama di dunia saja yang menolongnya di “sana”. Makanya, semua kita yang kehilangan harus berdoa, semoga amal baiknya diterima di sisi-Nya supaya Gusdur bisa enak-enakan di “dunia-sana”. Tidak modar seperti orang-orang zalim selama di dunia.

Kita yang masih hidup, pasti akan menyusulnya. Entah ketemu apa nggak di “sana:, tergantung amal baik juga, yang jelas menyusulnya: mengalami dicabut nyawa. Salam terakhir kami bagimu, Gus.

Mengungkap Asal-usul Manusia Lewat Gen

SEJARAH manusia mungkin seperti potongan puzzle yang berserak. Temuan temuan yang menyangkut asal usul manusia belum tersambung menjadi sebuah gambar utuh. Pertanyaan ilmiah, seperti di manakah manusia pertama lahir, ke manakah mereka menyebar, belum mendapatkan jawaban tuntas. Setiap kali muncul teori baru misalnya ketika Darwin menulis buku The Descent of Man pada 1871 yang isinya menyebutkan bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang—selalu memicu kontroversi.

Nyaris tak ada bidang ilmu yang lebih sering diperdebatkan daripada ilmu tentang asal usul manusia. Para ahli paleontologi terkemuka bahkan belum menyepakati urutan dasar dari pohon kekerabatan manusia. Teori teori baru muncul dan memperoleh sambutan besar, tapi layu dan hilang ketika dihadapkan pada penemuan penemuan fosil baru. Tak mengherankan bila Robert Locke, redaktur jurnal ilmiah Discovering Archaeology, sebuah terbit­an penting mengenai asal usul manusia, berujar, ”Pencarian terhadap nenek moyang manusia memberikan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Meskipun demikian, perjalanan panjang untuk mendapatkan jawaban atas asal usul manusia tak pernah berhenti.

Salah satu ikhtiar untuk menemukan asal usul manusia dilakukan para ilmuwan Asia yang tergabung dalam Konsorsium Pan Asia Single Nucleotide Polymorphism, dalam naungan Human Genome Organization (Hugo). Pada 11 Desember lalu, mereka mengumumkan hasil riset terbaru tentang peta genetik manusia di Asia. Riset selama tiga setengah tahun itu menelurkan kesimpulan yang berbeda dari teori yang diyakini para ilmuwan selama ini.

”Riset kami menunjukkan hanya ada satu jalur migrasi tunggal ke Asia,” kata Sangkot Marzuki, perintis riset sekaligus Direktur Lembaga Biomolekul Eijkman, dalam konferensi pers yang berlangsung serentak di sepuluh negara Asia. ”Asia Tenggara merupakan pusat penyebaran bangsa dengan penutur bahasa Austronesia di Asia.”

Dengan kesimpulan itu, riset berdasarkan analisis deoxyribonucleic acid (DNA) tersebut membantah teori yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan. Teori Out of Taiwan yang menyebut bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia) berasal dari Taiwan pun terbantahkan. Buktinya, kata Sangkot, ”Keanekaragaman genetik yang makin ke selatan semakin tinggi, sedangkan etnik etnik di kawasan utara Asia lebih homogen.”

Temuan itu tentu saja menjadi salah satu mata rantai penting untuk menjelaskan asal usul manusia. Menurut Sangkot, nenek moyang bangsa Asia bermigrasi dari Afrika sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Mereka kemudian menginjakkan kaki di Asia Tenggara sekitar 60 ribu tahun lalu dengan cara menyusuri pantai selatan Afrika, sebelum menyebar ke wilayah Asia lainnya.

Austronesia menjadi sebuah fenomena dalam sejarah migrasi umat manusia karena dalam waktu 3.500 tahun manusia dalam komunitas ini menyebar melampaui tiga perempat pinggang bumi. Mulai Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di timur, membekap 60 derajat bujur bumi, dari Taiwan di belahan utara sampai Selandia Baru di wilayah selatan. Austronesia kini telah melahirkan 1.200 bahasa yang dituturkan oleh hampir 350 juta populasi, yang sebagian besar berada di Kepulauan Nusantara.

Sebelumnya, Stephen Oppenheimer, dokter yang juga pakar genetika asal Oxford University, Inggris, penulis buku Eden in the East pada 1998, telah membuka wacana yang cukup kontroversial dengan memunculkan teori terbaru perihal asal muasal penyebaran bangsa penutur bahasa Austronesia. Rumpun bangsa itu disebutnya bukan datang pertama kali dari Taiwan, seperti teori yang telah diterima luas, melainkan dari Indonesia, atau tepatnya Wallacea, pulau pulau di utara Indonesia atau selatan Filipina, yang menjadi episentrum.

Menurut paleoantropolog Harry Widianto, perdebatan tentang asal mu­asal nenek moyang bangsa Asia masih terus berlanjut. ”Teori Out of Taiwan masih kuat, tapi mulai tergoyahkan,” kata Kepa­la Balai Situs Manusia Purba Sangir­an ini.

Harry mengatakan masih banyak temuan fosil manusia modern di Nu­santara yang diperkirakan hidup sekitar 3.500 tahun lalu. Tapi ada juga fosil manusia modern yang ditemukan di Pacitan sekitar 7.000 tahun lalu. ”Itu membuktikan sudah ada manusia mo­dern di Nusantara (Asia Tenggara).”

Sangkot menolak menyimpulkan secara spesifik bahwa pusat peradaban bangsa Asia pada sekitar 60 ribu tahun lalu itu ada di Indocina atau di Semenanjung Malaya. ”Harus ada riset lebih detail lagi,” katanya. Sangkot hanya memperkirakan pusat peradaban terletak di Laut Cina Selatan (Sundaland) yang sudah tenggelam sekitar 12 ribu hingga 8.000 tahun lalu. ”Menurut saya, itu masuk akal,” katanya.

Penelitian yang dilakukan Sangkot dan kawan kawan diklaim jauh lebih akurat dibanding riset riset sebelumnya yang hanya menggunakan DNA mitokondria atau kromosom Y. ”Kami meng­analisis seluruh kromosom,” ujar­nya.

Peneliti mengambil 54 ribu sampel DNA milik 1.928 individu yang mewakili 73 populasi etnik di 10 negara Asia, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Cina, Korea, Jepang, dan Taiwan. ”Data kami lebih komprehensif,” katanya.

Studi fundamental tentang asal usul manusia di Asia ini lahir secara tak sengaja. Syahdan, sekitar sepuluh tahun yang lalu, Sangkot bertemu dan bercengkerama dengan empat peneliti di Bali. Salah satunya adalah Chen Zhu, yang sekarang menjadi Menteri Kesehatan Cina. Selanjutnya, mereka hanya bertemu dan bertatap muka saban dua tahun sekali.

Baru pada 2004 mereka serius melangkah dalam sebuah penelitian fundamental tentang pemetaan genetik manusia di Asia, mencontoh apa yang telah dilakukan di Eropa. Lahirlah Konsorsium Pan Asia Single Nucleotide Polymorphism yang sepenuhnya dari, untuk, dan oleh bangsa Asia. ”Ini organisasi tanpa bentuk, tapi truly Asia,” kata Sangkot. ”Tidak ada ketua atau pemimpin di dalamnya, hanya ada dewan ­pengarah, tapi bisa berjalan baik.”

Penelitian dengan konsep ini dinilai sebagai model terbaik mengkolaborasi peneliti multinegara. Ilmuwan yang berasal dari negara negara yang kaya akan populasi etnik, seperti Indonesia (lebih dari 500 etnik), dapat bekerja sama sepadan dengan ilmuwan dari pusat teknologi maju.

Profesor Edison Liu, Direktur Genome Institute of Singapura, mengatakan studi ini merupakan batu loncatan, tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, melainkan juga dari konsorsium yang terbentuk. ”Sepuluh negara Asia berkumpul, dalam semangat solidaritas, memulai kegiatan bersama untuk mengetahui bagaimana manusia terhubung satu sama lain,” kata Liu dalam rilisnya.

Profesor Carmencita Padilla dari Nation of Health Universitas Filipina menyatakan penelitian ini telah berkembang menjadi sebuah proyek yang bermakna, yaitu, ”Pemahaman asal mu­asal kita,” katanya.

Sangkot mengatakan setiap nega­ra mengeluarkan biaya sendiri untuk meneliti. Memang butuh tenaga ekstra dan biaya mahal. Akibatnya, penelitian butuh waktu lebih dari tiga tahun. Se­kadar ilustrasi, ada populasi etnik di Sulawesi meminta syarat general checkup untuk izin pengambilan sampel.

Mahalnya teknologi juga menjadi kendala riset. Cip yang digunakan untuk menganalisis 50 ribu penanda DNA per individu sekaligus. Harga cip ini di pasar US$ 1.000. Padahal hampir 2.000 individu yang dijadikan sampel. ”Karena ada kerja sama dengan negara lain, kami dapat setengah harga,” kata Sangkot.

Informasi yang diolah di setiap negara lalu dikumpulkan dalam satu basis data yang bisa diakses secara bersama sama. Basis data itu diolah di Korea, yang memiliki sistem komputer yang memang mampu melakukannya. Selama bertahun tahun para peneliti setia untuk tidak mempublikasikan temuan mereka sesuai dengan waktu yang ditentukan bersama.

Penelitian ini masih jauh dari selesai. ”Ini baru base line (dasar) saja,” kata Sangkot. Seandainya saja ada penelitian lanjutan, hasilnya akan bermanfaat, misalnya untuk menangani penyakit genetik, seperti hepatitis dan talasemia. Riset lanjutan juga dapat dipakai menanggulangi penyebaran penyakit infeksi dari binatang. ”Target penelitian biologi molekuler ini diarahkan untuk kesejahteraan rakyat,” kata Sangkot.

Rudy Prasetyo
from tempomagazine

Selasa, 29 Desember 2009

Inilah Terapi untuk Ketidakstabilan Jiwa Manusia

Surat Al-Ma'arij berbicara tentang jiwa manusia yang suka tidak stabil. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir; Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir” (Al-Ma’arij:19-21)

Ayat-ayat di atas menggambarkan satu keadaan jiwa manusia. Bahkan pengungkapan Al-Insan, dengan menggunakan ism ma'rifah menunjukkan kondisi khusus manusia.

Sifat ketidakstabilan jiwa ini digambarkan dengan sifat haluu'an (berkeluh kesah lagi kikir).

Sifat jazuu'an (keluh kesah) muncul saat ia ditimpa kesusahan, sedangkan sifat manuu’an (kikir yang sangat) menampak saat ia mendapat kebaikan.

Sifat-sifat ini merefleksikan kesempitan dan ketidak-stabilan jiwa manusia.

Sifat keluh kesah mendapatkan padanan pada sifat al-hamm wal hazn (gelisah dan sedih), dimana kita diajarkan Rasulullah SAW untuk berlindung dari dua sifat ini.

Kebalikan dari sifat-sifat di atas adalah sifat optimis dan penuh dengan 'izzah (kemuliaan). Keduanya akan memberikan energi bagi kreativitas, inovasi dan daya juang.

Ini dapat dipahami melalui frase "laa khaufun alaihin wa laa hum yahzanun." (Al-Baqarah: 38)

Pada ayat ini tersirat bahwa pemikulan beban kekhalifahan manusia di muka bumi diawali dengan keteguhan dalam memegang Al Huda dari Allah SWT yang akan membuat manusia terlepas dari sifat khawatir/takut dan sifat sedih hati.

Bagaimana Menerapi Jiwa dari Ketidakstabilan

Allah SWT selanjutnya mengecualikan kondisi ketidakstabilan jiwa ini pada rangkaian ayat 22-34 surat Al-Ma’arij. Bahkan mereka yang dikecualikan juga menjadi karakeristik calon penghuni Jannatin Mukramun, yakni mereka (kekal) menjadi penghuni surga lagi dimuliakan.

Lalu siapakah mereka yang beruntung itu yang terbebas dari deraan penyakit ketidakstabilan jiwa? Ternyata mereka adalah orang-orang yang shalat. Tapi shalat seperti apa? Hanya sekedar takbiratul ihram, ruku’ dan sujud itu?

Tidak sekedar itu. Orang yang mengerjakan shalat itu (mushalliin) ada ciri-cirinya. Ini hampir sama dengan Al-Ma’un: 4 yang menyatakan celaka pada orang-orang yang shalat. Bukan maksudnya yang ruku’ dan sujud itu. Tapi shalat yang lalai, riya dan enggan bersedekah.

Nah, orang yang shalat yang terbebas dari penyakit ketidakstabilan jiwa ini pun ada karakteristiknya. Seperti apakah karakteristiknya? Inilah dia:

1. Dawam (senantiasa atau kontinuitas) Menegakkan Shalat (Al-Ma’arij: 23)

Pada ayat lain Allah sampaikan: “Sesungguhnya menanglah (beruntunglah) orang-orang mu’min, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya …” (Al-Mu’minun:1-2); “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah –dzkrilLaahi-. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d:28)

Manusia akan mengalami goncangan jiwa, mana kala shalat tidak menghiasi kehidupannya. Karenanya penegakkan shalat dengan baik akan mengembalikan kestabilan jiwa.

Dengan shalat, jiwa manusia akan terhubung erat dengan Allah SWT, Al-‘Aziiz Al-Hakiim, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

2. Bershadaqah (Al-Ma’arij: 24-25)

Bershadaqah atau berderma akan mengukuhkan jiwa dan membuang sifat pengecut dan kikir. Berderma juga akan menghilangkan sifat khauf dan hazn, sebagaimana janji Allah SWT:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-tarangan, maka mereka mendapat pahala dari sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran -khauf- pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati –hazn-.” (Al-Baqarah:274)

3. Meyakini Hari Pembalasan (Yaumud dien) (Al-Ma’arij: 26-28)

Sifat takut kepada hari pembalasan akan menyampaikan jiwa pada rasa takut yang tepat. Dan ini akan menghindari jiwa dari rasa takut semu yang senantiasa dihembuskan oleh setan ke dalam jiwa manusia.

Rasa takut pada hari adzab Allah membuat jiwa bersegera berbuat kebaikan dan menghindarkan jiwa dari kelalaian.

“ … Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan adzab suatu hari yang (pada hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan (yang datang) dari Rabb kami …” (Al-Insan:9-10)

4. Menjaga Kemaluan (Al-Ma’arij: 29-31)

Di antara pangkal goyahnya jiwa adalah manakala dorongan syahwat seksual menguasai diri manusia dan penyalurannya bukan pada jalan yang diridhai Allah. Manusia akan jatuh kondisi kejiwaannya menjadi budak nafsu syahwat.

Fenomena perselingkuhan yang marak di dalam masyarakat, indikator masalah ketidakstabilan jiwa.

Jiwa yang tak terkendali berbuat kejahatan, dalam kisah Nabi Yusuf as dikaitkan secara pasti dengan godaan wanita. Dalam kasus Nabi Yusuf as, yaitu istri pembesar Mesir.

“Dan aku tidak membebaskan diriku (berbuat kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan –amara bis suu-, kecuali nafsu –jiwa- yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (Al-Ahzab: 30)

Perintah yang sama berlaku bagi wanita beriman diiringkan dengan perintah menutupkan kain kerudung ke dada mereka. (Al-Ahzab: 31)

Demikian sekilas beberapa pengarahan Qurany terkait point menjaga kemaluan.

5. Menunaikan Amanah dan Janji serta Menegakkan Persaksian (Al-Ma’arij: 32-33)

Tatkala seorang manusia teguh melaksanakan amanah, janji dan persaksian –pernyataan kebenaran-, maka ia tengah membangun rasa pasti dalam jiwanya.

Sebaliknya ketika seseorang melalaikan amanah demi amanah, janji demi janji dan persaksian-persaksiannya, maka ia tengah meruntuhkan kepercayaan dirinya sendiri. Ia akan terhempas dalam ketidakpastian jiwa.

Dalam konteks kehidupan berkeluarga, hal ini tentu terkait dengan akad nikah, dimana di dalamnya terangkum perjanjian dan amanah buat bersuami-istri.

Penunaian amanah adalah wujud ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”


6. Menjaga Shalatnya (Al-Ma’arij:34)

Ini menunjukkan betapa hifzhu ash shalah merupakan perbuatan yang sangat signifikan dalam menjaga kestabilan jiwa. Seperti disampaikan di muka, masalah menjaga shalat ini pun disebutkan di point pertama.

Bedanya menjaga shalat dengan senantiasa shalat adalah bila yang pertama, memastikan seluruh syarat sahnya shalat dan sebagainya. Jadi tidak sekedar menegakkan shalat. Harus juga memastikan aspek fiqh dan syariatnya. Sedangkan yang kedua, secara terus menerus shalat, tidak absen apalagi cuti. Sebab bagaimana mungkin ada istilah absen mengabdi kepada Allah.

Nah, sekarang tinggal ngelakuinnya, kan?

Catatan:
Dikembangkan dari gagasan Adi JM